I read news site and watch MetroTV (or TVOne) everyday, and all I see is Mayor Quimby. A fat middle age guy with disgusting smirk.

Okay, maybe it is not the best way to describe him.

He is well known as Mayor of Springfield in the animated TV series The Simpsons. He has one wife but numerous mistress and illigitimate children. He also has affinity with porn and money.  Although he is a fictional character, his behaviour sounds familiar.

His is taking bribe from Police Chief Wiggum and put “Corruptus In Extremis” as an office seal, but our judge, lawmaker, and bureaucrat has bring the word “corrupt” to a whole new level. Raking in billion and billion of rupiah from fraudulent, gratification, tax evasion, while the Homer in me screaming for Bank mercy.

The funny thing is, despite alrady admitting to wrongdoing, he has been re-elected several times. Even a witty catchphrase is enough to keeping himself in the office. Apparently, Springfield citizen was just like us, always fooled by gimmicky gesture or smart speech, is not even funny.

I think your time is up, Mayor. Vote Quimby no more.

So, I decided to write in English from now on. It’s not that I’m really good at it. Quite opposite, actually. I never had a formal training or take a TOEFL test, so I had no idea how good my English proficiency is. It’s just that after writing several blog post, I realize that most of the time my post is basically an unnecessary long rambling. I want to write a short and concise post, but it’s so hard to do it in Bahasa Indonesia (for me anyway).  Another reason is, I’m planning to get a scholarship abroad this year (if God permit). But I don’t have time nor money to take a long, regular English course. People say practice makes perfect, so that’s what I’m trying to do instead.

Please don’t hesitate to comment in Bahasa Indonesia and feel free pointing out any typo and being a grammar Nazi. Thanks.

Dari dulu saya selalu bertanya-tanya, apakah videogame (saya sebut “gim” saja) yang membentuk kepribadian seseorang atau kepribadian gamer-lah yang menentukan genre gim yang disukai. Belakangan ini, sepertinya saya cenderung percaya dengan argumen yang kedua. Setidaknya itu yang saya rasakan.
Saya bukan gamer hardcore yang rela menghabiskan uang untuk membeli berbagai merek konsol atau punya waktu cukup untuk menyelesaikan gim hingga 100%. Tapi saya pernah mencicipi cukup banyak gim, setidaknya untuk mengetahui apakah genre tertentu cocok untuk saya atau tidak. Dari situ saya mulai menyadari bahwa gim yang saya mainkan ternyata menunjukkan kepribadian dan preferensi tertentu saya. Dan karena saya menyukai psikologi, saya mencoba membuat klasifikasi amatiran tentang kepribadian gamer menurut gim yang mereka sukai.
Mari kita mulai dengan gim favorit saya yaitu:

1. Tipe Super Mario Bros.
Super Mario Bros. adalah gim bergenre platformer yang menekankan pada aksi meloncat untuk menghindari rintangan demi mencapai tujuan. Contoh lainnya adalah Prince of Persia orisinal dan Jetpack Joyride (iOS). Walaupun sepertinya mudah, gim ini sesungguhnya membutuhkan kecermatan yang tinggi. Meleset beberapa pixel saja, bisa-bisa game over. Gamer tipe ini menyukai ketepatan dan keteraturan. Mereka pun tidak mudah patah arang dan tidak gampang bosan menghadapi rutinitas. Kekurangannya, mereka kurang fleksibel dan agak monoton.

2. Tipe Candy Crush Saga
Siapa yang tidak kenal Candy Crush? 3 match puzzle dalam wujud permen ini berhasil membuat jutaan orang kecanduan. Pendahulunya, Bejeweled dan Tetris, pun pernah populer pada jamannya. Gim sejenis ini banyak disukai karena sederhana dan cocok dimainkan di waktu senggang. Walaupun demikian, game ini tetap membutuhkan strategi, kecekatan dan sedikit keberuntungan. Game semacam ini nyaris tidak mengenal kata TAMAT karena jumlah level yang sangat banyak. Karakteristik game ini mencerminkan kepribadian gamer yang easy to please dan tidak ngoyo karena mereka menyadari faktor luck dan takdir adalah bagian dari kesuksesan maupun kegagalan. Bagi mereka, hidup tidak harus memiliki target spesifik. Prinsip “hari esok harus lebih baik dari hari ini” saja sudah cukup.

3. Tipe Final Fantasy
Tidak ada cara mudah untuk menikmati gim dengan genre RPG seperti Final Fantasy. Ketangkasan bukan yang utama, justru komitmen dan dedikasi yang lebih dibutuhkan. Ada banyak variasi RPG, namun ciri khas yang sering ditemui adalah penggunaan experience points yang merepresentasikan kemampuan karakter dalam angka. Berbeda dengan genre platformer dan puzzle, gim RPG jarang menggunakan sistem level. Seluruh area (overworld) dijembrengkan sejak awal, mengundang gamer untuk mengeksplorasi. Bagi mereka hidup itu tidak linear dan menghadirkan berbagai kemungkinan untuk dieksplorasi. Gamer RPG menganggap hidup bukan sekedar perpindahan dari satu masalah ke masalah yang lain, melainkan sebuah persiapan menuju pertarungan yang sebenarnya. Mereka sudah terlatih untuk sabar dan hanya maju jika semuanya telah benar-benar siap.

4. Tipe Sim City
Sim City adalah gim dengan genre simulator yang menekankan penciptaan sebagai obyektif. Tidak ada bos final yang perlu dikalahkan atau level yang harus diselesaikan, gamer hanya dituntut untuk membangun kota (atau obyek lain sesuai tema gim) dengan segenap permasalahannya. Gim simulator lain yang kini populer adalah FarmVille (facebook). Tipe ini sebenarnya memiliki beberapa kemiripan dengan Tipe Final Fantasy. Yang berbeda adalah Tipe Sim City lebih menyukai urusan micro management lingkungannya ketimbang pengembangan diri. Kepuasan mereka adalah saat melihat apa yang dibuat berjalan sesuai rencana.

5. Tipe PES/COD
Pro Evolution Soccer dan Call of Duty adalah dua genre gim yang berbeda. Yang satu gim sepakbola sedangkan yang terakhir adalah military first person shooter. Namun keduanya saya anggap sama karena memiliki demografi gamer yang beririsan. Percaya atau tidak, genre ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Candy Crush dalam hal aksesibilitasnya terhadap pemain pemula (casual). Cuman bedanya tipe ini sangat kental dengan nuansa ego maskulin. Kemenangan pada gim semacam ini ditentukan dalam sekali pertarungan dan lebih cocok dimainkan secara online atau local multiplayer. Ini mencerminkan kecenderungan gamer yang senang kongkow dan berkompetisi, namun tetap bersahabat. Mereka bukan orang yang terlalu memikirkan rencana jangka panjang. Prinsip “survival for the fitest” sepertinya lebih cocok untuk mereka.

dan terakhir,

6. Tipe Legend of Zelda
The Legend of Zelda (TLoZ) bisa dibilang adalah pionir genre action-adventure-puzzle yang menginspirasi gim action masa kini seperti Tomb Rider. Shigeru Miyamoto, si penciptanya, mengakui bahwa gim ini terinspirasi dari masa kecilnya yang gemar hiking dan insiden saat dia tersesat di rumah keluarganya yang menyerupai labirin. Gamer yang menyukai TLoZ sangat menyukai kejutan dan menjalani sesuatunya tanpa panduan. Kepuasan terbesar mereka adalah saat menemukan apa yang tidak tampak oleh orang lain.

Seperti kebanyakan anak-anak di akhir tahun 80-an dan awal 90-an, perkenalan saya dengan videogame dimulai dari arcade atau lebih dikenal dengan sebutan ding-dong, mesin videogame yang diaktifkan dengan memasukkan koin/uang receh. Sebagian kecil dari mereka ada yang naik status menjadi gamer konsol yang populer pada masa itu, seperti Nintendo (NES/SNES), Sega (Genesis/Megadrive), NEOGEO, Atari, atau MS-DOS, sementara sebagian yang lain (termasuk saya) tetap betah berdesak-desakan di tempat permainan ding-dong bersama teman-teman sebaya. Di pertengahan tahun 90-an, rental videogame SNES memang mulai merebak, tapi jumlahnya belum terlalu banyak, sehingga tidak cukup untuk mengalahkan popularitas ding-dong, terutama di kalangan anak-anak dengan uang jajan terbatas.

Kenangan bermain ding-dong masih sangat membekas di ingatan walaupun sudah 15 tahun yang lalu saya terakhir memainkannya. Bisa dibilang setiap indera yang saya miliki (kecuali lidah) masih menyimpan memori yang spesifik tentang ding-dong. Permainan ding-dong biasanya ada di ruko-ruko atau mall. Sebagian kecil juga bisa kita temukan di lahan toko milik pribadi. Tidak ada reklame atau setidaknya papan nama yang mengindikasikan tempat tersebut menyediakan ding-dong. Seringkali pintu atau rolling door-nya hanya dibuka separuh atau dua pertiganya. Tapi jarang saya temukan arena ding-dong yang terbuka lebar-lebar. Satu-satunya petunjuk yang ada adalah hingar-bingar yang menyeruak dari dalam ruangan. Suara itu berasal dari bermacam-macam game ding-dong dengan speaker berkualitas buruk, teriakan bocah ingusan, ABG, dan remako (remaja kolot), hingga suara tombol yang dihantam terus menerus tanpa ampun. Orang luar bisa salah mengira sedang terjadi tawuran. Di dalam ruangan, hawanya panas dan terasa pengap. Bau asap rokok selalu tercium, bukan karena banyak yang merokok, melainkan akibat minimnya sirkulasi udara dan absennya kipas angin.

Dari deskripsi tersebut, orang mungkin membayangkan arena ding-dong sebagai tempat “gelap” yang menjual minum-minuman keras. Itu sama sekali tidak benar. Arena ding-dong tidak pernah menyajikan minuman (dan makanan) dalam bentuk apapun. Tidak ada vending machine atau lemari pendingin berisi minuman ringan. Si Pemilik melayani permintaaan penukaran koin dari balik loket sempit dan hanya itu.

Pertanyaannya, dengan suasana yang sedemikian sumpek, mengapa arena ding-dong tidak pernah sepi pengunjung? Game ding-dong memang memiliki karakteristik khusus yang membuat pemainnya ketagihan. Tujuannya jelas, supaya pemilik ding-dong bisa meraup koin sebanyak mungkin. Salah satu aspek yang sering ditemui dari game ding-dong adalah papan skor yang muncul di akhir permainan. Pemain akan tertantang untuk mengalahkan capaian skor orang lain atau (kalau bisa) mencetak skor setinggi mungkin hingga sulit untuk ditandingi pemain lain. Contoh game seperti ini adalah Pac-Man yang ikonik itu. Hal lain yang membedakan ding-dong dengan konsol adalah joystick analog dan tombol aksi yang berukuran lebih besar dibanding controller konsol. Desain joystick dan tombol seperti ini sangat cocok untuk genre fighting yang mendominasi game-game ding-dong. Sebut saja Mortal Kombat, Samurai Showdown, dan Street Fighter yang fenomenal.

Bagi saya, keasyikan bermain ding-dong justru terletak pada aspek co-op (singkatan dari cooperative) multi-playernya. Tentu, hal ini juga bisa kita temukan di konsol. Namun bermain ding-dong bersama teman memiliki kelebihannya tersendiri. Alasan yang utama adalah karena berbagi koin untuk menyelesaikan game ding-dong merupakan realisasi sejati dari tujuan co-op yang sebenarnya. Istilahnya, kita benar-benar urunan untuk menyelesaikan tujuan bersama. Hal lainnya adalah, game ding-dong dengan genre beat’em up (baca: senggol bacok) seperti Final Fight dan shoot’em up (baca: tembak-tembakan) seperti Raiden memiliki tingkat kesulitan di atas rata-rata sehingga cocok untuk dimainkan secara bersama-sama.

Saat ini, permainan ding-dong bisa dibilang telah punah. Era Playstation adalah awal dari redupnya popularitas ding-dong di kalangan anak remaja. Rental ding-dong mulai digusur oleh menjamurnya rental konsol. Wajar saja, harga konsol sudah sangat terjangkau, begitu pula televisi. Perawatannya pun lebih mudah dan murah dibanding ding-dong yang lebih rentan rusak karena perilaku para gamer yang serampangan. Sistem pembayarannya juga lebih sederhana karena tidak perlu menggunakan koin lagi. Memiliki konsol di rumah pun sudah bukan lagi penampakan yang langka jika dibanding jaman NES/SNES dan Sega.

Proses pemusnahan yang berlangsung cepat dan hening. Saya tidak akan heran jika para gamer yang lahir di akhir tahun 90-an tidak pernah mendengar judul game seperti Captain Commando atau Cowboy Moomessa yang sempat hype dulu. Atau mereka mungkin akan terbelalak melihat skill anak umur 8 tahun pada saat itu yang lihai menampilkan semua jurus Master Bison dan mengalahkan lawan-lawannya kurang dari semenit. Tak terlupakan.

Akhir kata, mari bersulang untuk mengenang ding-dong, mesinnya gamer sejati sekaligus cinderamata dari tahun 90-an yang menakjubkan.

Cheers!

Di dunia perpolitikan Indonesia dikenal istilah golput alias golongan putih sebagai sebutan untuk orang yang memilih untuk tidak memilih dalam pemilihan umum. Walaupun menjadi golput bukan tanda seorang warga negara yang baik, namun pilihan ini seringkali dipandang sebagai sikap politik dengan alasan pembenaran yang secara umum dapat diterima. Siapa sudi memilih para elit korup yang bergelimang harta di tengah kondisi politik karut marut? Demikian argumen yang biasa mengemuka.

Dengan alasan yang hampir sama, saya pikir dalam beberapa bulan terakhir ini saya telah memutuskan menjadi golput di dunia persepakbolaan Indonesia yang makinn lama makin nggak karu-karuan. Bahkan lebih buruk lagi, saya benar-benar acuh dengan situasi kompetisi sepakbolanya. Boro-boro nonton pertandingan, lihat daftar klasemen pun tidak pernah. Apakah Djohar Arifin masih menjadi Ketum PSSI? Apakah FIFA telah menjatuhkan sanksi? Sudah berapa kali Kongres digelar sejak Nurdin Halid lengser? Apa pula itu Badan Tim Nasional? Apakah Roy Suryo masih berkumis? Kabar heboh terakhir yang saya dengar adalah pemecatan pelatih timnas, Blanco yang (katanya) baru bekerja 2 pekan. WTF?!

Ketidakpedulian ini sebenarnya berlangsung secara tidak sadar. Saya kira bukan saya saja yang belakangan ini larut dalam serunya sepakbola Eropa yang sedang memasuki tahap penentu. Namun saat TV nasional menyiarkan pertandingan Indonesia vs Arab Saudi minggu lalu, dengan mantap saya memilih untuk tidak mencoblos menonton. Tidak ada lagi rasa penasaran untuk mengetahui skor terakhir. Dulu, timnas Indonesia bagaikan pacar yang selalu dicintai, walaupun terus bikin sakit hati. Sekarang, enough is enough. Buat apa nonton Messi-nya Indonesia, kalau ada MESSI yang sesungguhnya.

Seperti halnya dalam politik, golput sepakbola Indonesia adalah pilihan pribadi yang tidak perlu dikampanyekan. Saya sendiri kagum dengan para suporter klub lokal dan timnas yang rela mengeluarkan waktu dan uang untuk datang ke stadion sementara penggemar sepakbola seperti saya hanya leyeh-leyeh di depan TV menikmati tontonan gratis liga-liga Eropa. Semoga antusiasme mereka merupakan pertanda bahwa sepakbola Indonesia masih punya harapan. And maybe, juust maybe, hopefully, suatu saat nanti saya tidak akan golput lagi.

%d bloggers like this: