14/02
Teruntuk muda-mudi yang sedang merayakan tanggal 14 Februari dengan coklat, kartu, dan cumbu, camkan ini:
“The heart was made to be broken.” ― Oscar Wilde
Teruntuk muda-mudi yang sedang merayakan tanggal 14 Februari dengan coklat, kartu, dan cumbu, camkan ini:
“The heart was made to be broken.” ― Oscar Wilde
“Paling lambat 2026 kita bisa masuk Piala Dunia,” kata Ketua PSSI Djohar Arifin. Itu berarti 14 tahun lagi. Wew!
Pak Djohar mungkin terlalu pesimistis. Saya sih cukup yakin bisa lebih cepat dari itu. Asalkan ramalan kiamat 2012 tidak terbukti, Indonesia berpeluang besar menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018 (bersama Singapura, bukan Malaysia tentu saja).
Alasannya? Sejak Piala Dunia Afsel, FIFA akan lebih memprioritaskan negara-negara berkembang sebagai tuan rumah dengan alasan pemerataan. Biaya yang dibutuhkan memang tidak murah. Oleh karena itu Indonesia harus mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen. Dan tentu, itu mungkin jika buruh tidak saban hari memblokir jalan tol, membakar ban, atau merobohkan pagar.
Tapi okelah. Seandainya memang 2026 adalah waktu yang paling realistis, saya jadi membayangkan apa yang terjadi pada sepakbola Indonesia selama penantian panjang itu.
Silahkan menambahkan jika ada yang kurang. Oh ya, pada tahun 2026 usia saya 43 tahun dengan rambut yang mulai menipis, dan sedang menulis di blog ini menggunakan Holographic PC dengan Mind-reading Input.
Blog ini lama-lama mirip pemukiman kumuh di pinggir kali. Awalnya kosong melompong, lalu penuh, berantakan dan kotor, tapi terus dihuni walau tenggelam direndam banjir setahun sekali. Oke, saatnya bersih-bersih dan mulai menulis lagi.